Di akhir dekade 90an sampai awal tahun 2000an pernah ada sebuah sinetron yang ceritanya sangat panjang berjudul Tersanjung. Saking panjangnya Tersanjung cerita itu dibuat sampai seri ke Sembilan. Ceritanya tak pernah selesai-selesai. Ketika suatu masalah tengah menemukan penyelasaian maka masalah/konflik berikutnya dimunculkan. Bahkan lucunya ketika Adam Jordan bisa memerankan tokoh yang berbeda dari setiap serinya. Tapi mungkin dulu cerita Tersanjung masih bisa dikatakan menarik, karena sinetron sejenis itu belum banyak menjamur di layar kaca.
Jaman berubah dan tahun pun berganti. Saat masyarakat mulai lupa dengan sejarah Tersanjung 1 sampai Tersanjung 9, kembali muncul sinetron yang bersiap memecahkan rekor seri Tersanjung. Kali ini sinetron tersebut berjudul Cinta Fitri, dan telah mencapai season 7, saat penanyangan sinetron tersebut berpindah channel dari stasiun TV yang satu ke stasiun TV yang lain.
Tapi baik Tersanjung maupun Cinta Fitri itu semua tentu tak terjadi di dunia nyata. Cerita itu hanya fiktif dan permainan pikiran seorang bernama penulis skenario. Berbeda dengan sebuah cerita nyata yang minggu-minggu belakangan ini semakin gencar muncul di semua layar kaca setiap stasiun televisi, dan juga menghiasi hadline semua surat kabar local maupun nasional.
Cerita itu adalah milik seorang bernama Gayus Halamonan Tambunan. Seorang tersangka kasus mafia pajak yang merugikan negara puluhan milyar. Cerita tentang Gayus semakin seru dan panjang. Ceritanya pun semakin sulit ditebak dan jauh lebih berkualitas dibandingkan sinetron dan film-film Indonesia yang semakin turun kualitasnya.
Setelah sebelumnya sinetron Gayus telah melewati berbagai season dari cerita penangkapan dia di Singapura oleh Satgas Pemberantasan Anti Mafia Hukum, hingga cerita-cerita Gayus keluar masuk rutan, dan yang terbaru tentang lagu tentang Gayus. Kali ini cerita Gayus kembali memasuki season baru. Malah saking bingungnya saya tak tahu sinetron Gayus ini sudah masuk ke season yang ke berapa.
19 Januari lalu, setelah Gayus dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara dan denda 300 juta rupiah, Gayus memberikan pernyataan yang membuat publik terkejut –dan sekaligus melahirkan season baru cerita tentang dirinya–. Gayus mengatakan dia merasa dibohongi oleh anggota Satgas Pemberatasan Mafia Hukum bahwa dirinya akan dijadikan whistle blower. Lebih dari itu Gayus pun mengatakan kepergiannya dan penjemputannya di Singapura semuanya adalah rekayasa dari anggota Satgas. Mendengar pernyataan Gayus, para anggota satgas pun seolah kebakaran jenggot dan segera menggelar konfrensi pers sore harinya.
Apabila yang dikatakan Gayus adalah benar maka cerita yang terjadi hari rabu lalu merupakan rentetan fakta-fakta baru yang belum terungkap ke publik. Lebih dari itu season baru ini membuat publik semakin penasaran dan menanti fakta-fakta lainnya yang memang belum terungkap. Kita juga akan mulai sadar betapa berbakatnya Gayus menjadi seorang penulis skenario ataupun sutradara. Gayus bisa dengan pas memunculkan fakta baru, disaat hukuman buatnya telah dijatuhkan.
Namun tentu saja munculnya season 99 ini tidak boleh melupakan substansi pokok dari persoalan Gayus tentang pajak perusahaan-perusahaan besar. Sudah jadi rahasia umum di Indonesia jika ada cerita baru yang lebih menarik, maka cerita lama akan dilupakan begitu saja. Seperti kasus Century yang bagai hilang ditelan bumi oleh kasus teroris…
Season 99 harus bisa menjadi kunci pengungkapan semua fakta yang memang belum terungkap. Jangan sampai season baru ini malah semakin mengaburkan fakta-fakta lain yang memang tidak boleh diungkap.
Gayus oh Gayus…, Entah harus sampai season berapa kasusmu akan tuntas.
Senin, 24 Januari 2011
Fanatisme dan Sebuah Harapan Bagi Bangsa
Laga Persib Bandung kontra Arema Indonesia hari Minggu kemarin menyisakan banyak cerita dan persoalan yang harus segera dibenahi. Laga yang akhirnya berakhir imbang 1-1 itu sempat terhenti karena ulah bobotoh setelah Wildansyah terkapar saat terkena sikutan pemain Arema asal Singapura, M. Ridhuan. Wasit Najamudin Aspiran yang terkesan tak sigap dalam menyikapi masalah ini membuat para suporter berang. Suporter yang marah lantas melakukan aksi anarkis berupa melakukan lemparan batu dan botol ke tengah lapangan, melakukan pembakaran, membakar petasan, hingga merusak berbagai fasilitas stadion, dan menghancurkan billboard sponsor dan menggantinya dengan billboard Liga Primer Indonesia.
Membirukan Kereta Orange
Orange itu Persija dan biru itu Persib. Tapi ini jelas bukan cerita tentang kedua kesebelasan itu melainkan tantang cerita pertandingan Persib kontra Arema kemarin yang sama-sama memiliki warna kebanggaan biru.
Cerita Persib kemarin dimulai dari keberangkatan para bobotoh untuk menyaksikan pertandingan yang digelar di stadion Siliwangi tersebut. Banyak bobotoh yang pergi dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Kereta api yang digunakan adalah kereta kelas ekonomi yang berwarna dasar orange. Sudah pasti kereta tersebut pun berubah warna menjadi biru tanpa harus dicat oleh PT. KAI. Yap, semua keberangkatan kereta kelas ekonomi dari Cicalengka ataupun Padalarang dari pagi hingga sore dipenuhi oleh para bobotoh yang akan menyaksikan laga yang berlangsung sengit itu. Namun dibalik itu semua ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Keamanan para penumpang selain supporter Persib, terutama kaum ibu yang sering was-was menyaksikan gerombolan harus menjadi perhatian. Banyak penumpang kereta api yang membawa balita yang tak jadi naik karena terlanjur ketakutan.
Pembenahan Panpel
Kerusuhan kemarin bukan hanya karena ketidaksigapan wasit dalam memimpin pertandingan hingga membuat para suporter kecewa dan marah. Namun ini juga adalah ketidaksigapan dari panitia pertandingan yang membuat kerusuhan meluas. Harus ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas agar hal ini tak terulang lagi. Jangan sampai benda-benda yang dapat menganggu jalannya pertandingan sepakbola bisa masuk dengan bebas kedalam stadion.
Pindah LPI
Setelah kejadian antara M. Ridhuan dan Wildansyah yang membuat pertandingan terhenti, para suporter juga menyanyikan lagu yang meminta Persib untuk pindah kompetisi dan berlaga di LPI. Para suporter seolah sudah sangat kecewa dengan penyelenggaraan LSI yang masih jauh dari profesional. Euforia LPI terbukti dengan pemasangan satu billboard Liga Primer Indonesia saat perusakan terjadi.
Namun, berlaga di LPI atau tidak pun belum tentu bisa menghadirkan prestasi yang nyata bagi Persib. Alasan yang selalu mengkambing hitamkan wasit sebagai penyebab kegagalan Persib meraih gelar harus segera dihapuskan. Jika Persib ingin juara, Persib harus berbenah dari berbagai hal. Dari manajemen hingga mental dan fisik pemain yang harus digenjot. Pemilihan pemain harus benar-benar diperhatikan jangan terlalu bangga terhadap pemain yang sudah diluar usia emasnya, meski pemain tersebut pernah berjaya atau bermain di tim nasional. Contoh nyata jika kita membandingkan Isnan Ali dan M. Nasuha yang berbaju Persija. Kalau saja yang diambil oleh Persib adalah M. Nasuha mungkin Persib memiliki kekuatan tambahan di posisi bek kiri.
Persib harus seperti Arsenal. Manajemen harus memberi kebebasan kepada pelatih untuk memilih komposisi pemain. Pembinaan usia muda bisa menjadi jawaban. Jangan hanya ingin pencapaian prestasi secara instant. Tapi biarkan semuanya berjalan secara sistematis hingga Persib mencapai kejayaannya.
Keakraban Pemain Dua Kesebelasan
Partai kemarin memang panas dan keras. Bukan hanya kartu kuning, kartu merah pun keluar dari saku wasit. Namun dibalik itu semua ada hal baik yang ditunjukkan para pemain kedua kesebelasan. Saat pertandingan terhenti para pemain menunjukkan keakraban dan kehangatannya. Para pemain dari kedua tim berkumpul dan bercanda. Mereka saling mengobrol dan tertawa. Baihaki dan Along, Hariono dan Waluyo misalnya terlihat asyik mengobrol dan berbagi cerita tentang pengalaman-pengalaman keseharian mereka. Juga pemain-pemain lainnya memberikan sebuah contoh dasar yang baik buat persepakbolaan nasional.
Tonggak sportivitas yang dijunjung oleh para pemain kedua kesebelasan tentunya juga harus diikuti juga oleh para suporter kedua kesebelasan. Stop, saling ejek dan saling hina antar supporter! Kita harus belajar dari kejadian piala AFF kemarin. Bersama-sama mendukung persepakbolaan Indonesia. Persoalan wasit yang tidak sigap merupakan sebuah masalah yang klasik, namun kita tak boleh tambah memperkeruhnya dengan meluapkan amarah dengan cara yang kurang terpuji. Sepakbola merupakan hiburan rakyat yang harus menjadi tontonan yang menarik dan menghibur semua elemen masyarakat. Sepakbola Indonesia bisa bangkit asal kita mau bersatu. Lupakan perbedaan warna baju. Lupakan juga perbedaan kompetisi yang ada! Mari kita berusaha untuk kemajuan sepakbola nasional. Niscaya, Indonesia bisa berprestasi suatu saat nanti***
Membirukan Kereta Orange
Orange itu Persija dan biru itu Persib. Tapi ini jelas bukan cerita tentang kedua kesebelasan itu melainkan tantang cerita pertandingan Persib kontra Arema kemarin yang sama-sama memiliki warna kebanggaan biru.
Cerita Persib kemarin dimulai dari keberangkatan para bobotoh untuk menyaksikan pertandingan yang digelar di stadion Siliwangi tersebut. Banyak bobotoh yang pergi dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Kereta api yang digunakan adalah kereta kelas ekonomi yang berwarna dasar orange. Sudah pasti kereta tersebut pun berubah warna menjadi biru tanpa harus dicat oleh PT. KAI. Yap, semua keberangkatan kereta kelas ekonomi dari Cicalengka ataupun Padalarang dari pagi hingga sore dipenuhi oleh para bobotoh yang akan menyaksikan laga yang berlangsung sengit itu. Namun dibalik itu semua ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Keamanan para penumpang selain supporter Persib, terutama kaum ibu yang sering was-was menyaksikan gerombolan harus menjadi perhatian. Banyak penumpang kereta api yang membawa balita yang tak jadi naik karena terlanjur ketakutan.
Pembenahan Panpel
Kerusuhan kemarin bukan hanya karena ketidaksigapan wasit dalam memimpin pertandingan hingga membuat para suporter kecewa dan marah. Namun ini juga adalah ketidaksigapan dari panitia pertandingan yang membuat kerusuhan meluas. Harus ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas agar hal ini tak terulang lagi. Jangan sampai benda-benda yang dapat menganggu jalannya pertandingan sepakbola bisa masuk dengan bebas kedalam stadion.
Pindah LPI
Setelah kejadian antara M. Ridhuan dan Wildansyah yang membuat pertandingan terhenti, para suporter juga menyanyikan lagu yang meminta Persib untuk pindah kompetisi dan berlaga di LPI. Para suporter seolah sudah sangat kecewa dengan penyelenggaraan LSI yang masih jauh dari profesional. Euforia LPI terbukti dengan pemasangan satu billboard Liga Primer Indonesia saat perusakan terjadi.
Namun, berlaga di LPI atau tidak pun belum tentu bisa menghadirkan prestasi yang nyata bagi Persib. Alasan yang selalu mengkambing hitamkan wasit sebagai penyebab kegagalan Persib meraih gelar harus segera dihapuskan. Jika Persib ingin juara, Persib harus berbenah dari berbagai hal. Dari manajemen hingga mental dan fisik pemain yang harus digenjot. Pemilihan pemain harus benar-benar diperhatikan jangan terlalu bangga terhadap pemain yang sudah diluar usia emasnya, meski pemain tersebut pernah berjaya atau bermain di tim nasional. Contoh nyata jika kita membandingkan Isnan Ali dan M. Nasuha yang berbaju Persija. Kalau saja yang diambil oleh Persib adalah M. Nasuha mungkin Persib memiliki kekuatan tambahan di posisi bek kiri.
Persib harus seperti Arsenal. Manajemen harus memberi kebebasan kepada pelatih untuk memilih komposisi pemain. Pembinaan usia muda bisa menjadi jawaban. Jangan hanya ingin pencapaian prestasi secara instant. Tapi biarkan semuanya berjalan secara sistematis hingga Persib mencapai kejayaannya.
Keakraban Pemain Dua Kesebelasan
Partai kemarin memang panas dan keras. Bukan hanya kartu kuning, kartu merah pun keluar dari saku wasit. Namun dibalik itu semua ada hal baik yang ditunjukkan para pemain kedua kesebelasan. Saat pertandingan terhenti para pemain menunjukkan keakraban dan kehangatannya. Para pemain dari kedua tim berkumpul dan bercanda. Mereka saling mengobrol dan tertawa. Baihaki dan Along, Hariono dan Waluyo misalnya terlihat asyik mengobrol dan berbagi cerita tentang pengalaman-pengalaman keseharian mereka. Juga pemain-pemain lainnya memberikan sebuah contoh dasar yang baik buat persepakbolaan nasional.
Tonggak sportivitas yang dijunjung oleh para pemain kedua kesebelasan tentunya juga harus diikuti juga oleh para suporter kedua kesebelasan. Stop, saling ejek dan saling hina antar supporter! Kita harus belajar dari kejadian piala AFF kemarin. Bersama-sama mendukung persepakbolaan Indonesia. Persoalan wasit yang tidak sigap merupakan sebuah masalah yang klasik, namun kita tak boleh tambah memperkeruhnya dengan meluapkan amarah dengan cara yang kurang terpuji. Sepakbola merupakan hiburan rakyat yang harus menjadi tontonan yang menarik dan menghibur semua elemen masyarakat. Sepakbola Indonesia bisa bangkit asal kita mau bersatu. Lupakan perbedaan warna baju. Lupakan juga perbedaan kompetisi yang ada! Mari kita berusaha untuk kemajuan sepakbola nasional. Niscaya, Indonesia bisa berprestasi suatu saat nanti***
Langganan:
Postingan (Atom)