Selasa, 06 Juli 2010

LAGI, KISRUH BEASISWA DI KAMPUS

Huh… Kisruh itu bermula dari ketidaktegasan bagian kemahasiswaan di kampusku tercinta. Disaat dia membagikan undangan penerimaan beasiswa PPA dan BBM dari kopertis wilayah IV kepada 51 orang mahasiswa. Saat mahasiswa lain yang tidak menerima beasiswa dia tidak mampu menegaskan tentang beasiswa ini, sehingga memaksa penerima beasiswa yang 51 ditunda, dan diadakan seleksi ulang.

Seleksi pun ‘diadakan’, jujur kenapa saya menulis seperti ini karena saya tidak yakin seleksi itu memang ada, dan karena bentuk seleksinya tidak jelas. Singkat cerita, seleksi berakhir dan ada 36 nama yang lolos. Anehnya, saya dan banyak teman saya yang seharusnya mendapatkan beasiswa menjadi tidak dapat.

Kekisruhan ini berlanjut saat kami –barisan sakit hati– mendengar penjelasan bagian kemahasiswaan yang menurut kami tidak masuk akal dan logika. Beliau mengatakan seleksi didasarkan pada Indeks Prestasi (IPK) saja. Dia pun mengatakan ini adalah besiswa pengembangan potensi akademik, bukan beasiswa aktivis.

Sepintas hal ini dapat diterima. Namun, jika mengingat butir-butir persyaratan serta beberapa fakta lain, rasanya dia kurang mengerti atau mungkin hendak bermain-main dengan yang dijadikan ucapannya.

Pertama, di syarat-syarat itu jelas-jelas tertulis, MAHASISWA PENERIMA BEASISWA AKTIF DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER YANG DIPROGRAM OLEH KAMPUS, DAN DIBUKTIKAN DENGAN SURAT KETERANGAN ORGANISASI. Jadi jelas sekali kalau seleksi itu tidak wajar karena hanya menjdikan nilai IPK saja sebagi bahan pertimbangan. Adik saya yang SD saja tahu kalau semua yang dijadikan persyartan itu akan dijadikan bahan penilaian, masa sarjana bergelar S. Ip tidak mengerti akan hal itu? Lantas untuk apa pula saya capek-cpek menandatngani surat keterangan aktiv organisasi bagi pengurus BEM?

Lagipula, jika kita analogikan dengan pengambilan nilai untuk mata kuliah, tentunya alasan ini pun akan terbantah. Bagaimana tidak? Seorang dosen ketika akan menentukan nilai untuk mahasiswanya tentunya tidak hanya mengmbil dari nilai UAS saja. Tapi dari banyak hal. Selain nilai UTS, dosen itu akan mengambil dari tugas, keaktifan, kehadiran, kuis, dan tentunya sikap.

Kedua, Okelah kalau ini berdasarkan IPK, –Meski IPK yang tidak dapat lebih besar dari yang dpat– kami barisan sakit hati bisa menerima. Meski apa mungkin prestasi akademik itu hanya didasarkan pada IPK kampus saja? Saya rasa Hanya orang-orang TOLOL saja yang berkata iya. Saya beberapa bulan yang lalu mengikuti Olimpiada Nasional MIPA Tingkat Perguruan Tinggi, dan saya berhasil masuk 300 besar dari 600 lebih peserta se-Indonesia. Apa itu bukan sebuah pencapaian terbaik untuk kampus sekecil kampus saya? Dan apa itu bukan patokan untuk prestasi akademik.

Jujur saya kecewa. Saya merasa didzolimi. Saya masih ingat dengan kata-kata dia yang sekarang saya tahu kalau itu hanya BASA BASI BUSUK!!!! Dulu, sebelum seleksi dia pernah menjelaskan kalau seleksinya akan melibatkan ketua-ketua organisasi, untuk masalah keaktivan tadi. Dia berjanji akan melibatkan saya sebgai Presiden BEM, dan beberapa rekan ketua organisasi lain dalam pengambilan keputusan dan penilaian. Tapi apa yang terjadi? Ini hanya BASA BASI BUSUK!!! DIA MENJILAT LUDAHNYA SENDIRI!!!

Sebenarnya yang saya cari disini bukanlah uang beasiswa semata. Maaf -tanpa mengekesampingkan uang satu juta- rasanya, harga bagi sebuah idealisme terlalu murah untuk ditukar. Saya hanya ingin menjalankan fungsi saya sebgai mahasiswa. Sebgai Presiden BEM yang seminggu lagi bkal lengser.

Mahasiswa itu harus jadi agent of change. Membetulkan apa yang salah, dan meluruskan apa yang bengkok. Saya ingin seleksi ini transparan dan adil. Jangan seperti henteu-heunteuan dalam bahasa sundanya mah. Masa, penutupan pendaptaran hari jumat sore, hari sabtunya nama-namanya sudah ada??

Terus saya pun ingin melanjutkan apa yang dia pernah praktekan. Dulu, sewaktu dia menjdi mahasiswa, dia adalah orang yang paling berkoar-koar dengan setiap ketidakwajaran kebijakan lembaga kampus. Saya ingin sepertinya dulu. Meskipun saya tidak ingin menjadi seperti dia sekarang.***

AJANG DODI PRAMADA

PRESIDEN BEM UNIVERSITAS SWASTA KECIL DI BANDUNG

MEWAKILI REKAN-REKAN LAIN YANG KECEWA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Info Lomba