Sabtu, 27 Februari 2010

Nraktir? Nggak Mungkin!

WHAT’S up ? Ari Toge mau nraktir anak-anak Djadam? Gak mungkin banget kali! Wong, di luar langit masih baik-baik aja. Gak ada ujan gak ada petir. Atau, tadi anak-anak Djadam salah ngartiin ucapan drumernya itu.

Nggak, anak-anak Djadam nggak salah denger. Ari bener-bener mau nraktir mereka semua. Emang sih, di Djadam, Ari terkenal paling pelit buat ngeluarin uang. Anak-anak sendiri, malah bakal numpeng kalo Ari mau nraktir mereka.

Emang sih, di Djadam sendiri, ada aturan yang nyebutin kalo salah seorang dari mereka ada yang lagi banyak duit, orang itu wajab nraktir yang lainnya. Kalo nggak ? "Jangan ngarep deh lo bakal aman di kelas" ujar Otang sesepuh Djadam.

Tet... Tet... Tet

Bunyi bel kemenangan anak-anak Djadam berbunyi. Mereka akhirnya terbebas dari kutukan rumus-rumus fisika. Selain itu, saat itu pula Ari toge bakal ngewujudin janjinya.

Anak-anak Djadam telah berada di kantin. Mereka sebenarnya agak takut juga, kalo-kalo akhirnya mereka sendiri yang disuruh bayar. Mana tanggal tua , dompet udah tipis.

"Cepetan keburu masuk lagi, Ntar si Buldog ngamuk" perintah Ari agar anak-anak Djadam segera memilih makanan.

"Beneran, gue boleh ngambil apa aja?" Opick masih kurang yakin.

"Sok, up to you... Gue yang bayar ini," Ari kembali ngeyakinin mereka.

Anak-anak Djadam akhirnya memesan makanan dan minuman. Banyak sekali yang mereka pesan. Imam yang terkenal paling rakus pun, memesan 2 porsi nasi goreng dan 1 piring baso tahu.

Giliran bayar, Ari ternyata emang nggak kabur. Dia ngeluarin 2 lembar uang 50.000 rupiah dari dompetnya. Anak-anak Djadam sendiri heran, kok akhir bulan begini, Ari masih banyak duit. "No what-what... cuma segini ini" kata Ari dengan englishnya yang amburadul.

**

SEPULANG sekolah, anak-anak Djadam udah ngumpul di tempat majalah langganan mereka ngutang. Mereka terlihat tegang, tetapi sesaat kemudian mereka bersorak. Demo lagu mereka yang mereka kirimin ke radio masuk chart dan mereka bakal ngedapet komisi.

"Ge, sore ini kita mesti ke radio..." ujar Ara.

"Mau ngapain ?" tanya Ari.

"Ngambil Honor lah..." jawab Imam enteng.

"Gak perlu wong honornya udah ada di kalian..."

Anak-anak Djadam terdiam ngedenger kata kalian. "Maksud Lo...?"

"Udah ada di perut kalian, malahan mungkin bentar lagi bakal jadi penghuni wc umum..."

Jangan-jangan...

Bener banget, ternyata duit yang dipake Ari nraktir adalah uang honor atas lagu mereka. Saat itu, rasanya semua anak Djadam pengen teriak dan mencekik Ari Toge.***

Dengan Sedikit, Kita Bisa!

SEBUAH iklan produk susu di TV mengatakan bahwa dengan sedikit mengubah kebiasaan kecil, hal sesulit apa pun bisa kita peroleh. Nah, di sini aku ingin coba sedikit nunjukin kepada Belia semua hal-hal apa aja yang harus diubah biar kita dapat memperoleh hal-hal yang kita inginkan.

1. Dengan menghilangkan waktu main kita untuk belajar, berarti kita telah membuka jalan agar nilai-nilai kita tak lagi doremi.

2. Dengan menggunakan sedikit kemampuan otak kita, berarti kita telah bersama-sama mengejar ketertinggalan bangsa ini dari Jepang ataupun Amerika.

3. Dengan menyisihkan Rp 500,00 sampai Rp 1.000,00 setiap hari, berarti kita telah siap untuk keliling dunia.

4. Dengan memunguti satu sampah kecil di jalan dan menanam sebuah tanaman hijau kecil berarti kita telah menyelamatkan bumi ini dari ancaman global warming

5. Dengan mengurangi sedikit waktu menonton sinetron, berarti kita telah menghilangkan sebagian pengaruh buruk yang ada dari sinetron itu.

6. Dengan meluangkan waktu setengah jam sehari untuk membaca buku, bearti kita telah menambah ilmu yang kita miliki.

7. Dengan menghafal satu kata asing setiap hari berarti kita telah siap untuk menguasai dunia.

8. Dengan olah raga lima sampai sepuluh menit setiap hari berarti kita membuat umur kita di dunia semakin panjang.

9. Dengan mendermakan Rp 100,00 saja berarti kita telah membeli tiket ke surga.

10. Dengan berani mencoba berarti kita telah membuka jalan menuju berhasil.

Nah, setelah selesai membaca, dilanjutkan dengan memulai untuk melakukan hal-hal kecil tadi niscaya belia semua udah selangkah lebih maju dari sebelumnya!***

Ngomong Naon?


13 November 2009
Setiap sahabat pastilah punya kebiasaan saat mereka berbincang. Entah itu panggilan ataupun kata-kata unik yang hanya dimengerti oleh keduanya saja. Bgtupun aQ. aQ juga punya kata-kata yG hanya aQ dan dia yG ngerti.

[Dulu] aQ sering memanggil dy Nyenengin dan Patrick. Dy sndiri manggil aQ STRES

Dan selain nick name itu kami juga sering berbincang hal-hal yG kdang ga buat orang ngerti. Contohnya, sore itu, saat aQ, Dy, dan dua temen kami tengah berbincang mengenai masalah Aksi untuk hari Diabetes. Tiba2 Dy melontarkan sebuah bahan obrolan yG membuat dua orang temen kami bingung. Dg Ngga ngeh mereka nanya, "Ngomong Naon?".
Dan dG nyantei Dy ngjawab kLau cuma kami b2 yG ngerti hal itu...***

9 [Kesalahan] Penulis

Ini memang bukan mencari-cari kesalahan dari penulis atau penulis pemula ketika berhubungan dengan penerbit, redaksi, maupun klien lainnya, tetapi hal tersebut bisa berakibat kesan tidak baik bagi mereka.

Tidak punya database
Banyak naskah yang akhirnya markir di tong sampah! Kenapa? Karena naskah-naskah tersebut tidak sesuai dengan keinginan penerbit, sudah ada buku atau artikel yang diterbitkan, dan tidak sesuai tema. Bayangkan kalau penulis mengirim naskah tentang SMS Cinta sementara penerbit tersebut sudah menerbitkan 4 buku soal SMS Cinta. Tentu 100 persen dipastikan naskah kita ditolak.

Tidak konek alias error banget
Seringkali penerbit atau redaksi media mengumumkan bahwa naskah diterima dengan kriteria X, Y, atau Z. Namun, seringkali pula kita nggak konek dengan aturan ini. Yang diminta ngirim dengan font Times New Roman ukuran 12 spasi 1,5 eh yang dikirim diluar itu. Yang diminta paling banyak 3000 karakter, eh yang dikirim 3500 karakter. Error banget.

Tidak sabar
Banyak penulis dan penulis pemula yang tidak sabar dengan proses. Bahwa ada flow dimana sebuah naskah akan diproses menjadi buku atau diterbitkan di media. Bagi penerbitan buku waktu 3 bulan adalah waktu standar untuk menentukan naskah itu diterima atau ditolak. Sementara penulis atau penulis pemula kadang baru dua minggu langsung nelpon dan nanya kabar. Iya sih dengan orang redaksinya kenal, tapi bete juga kan kalo ada banyak orang yang nggak sabar ini.

Cerewet
Selalu ada standar yang diterapkan oleh redaksi. Apalagi bagi penerbitan buku. Nah, ini baru aja punya buku satu udah cerewet banget soal perjanjian, cerewet masalah harga, cerewet masalah besaran royalti yang diterima, dan cerewet masalah ‘kapan terbit, sih?’ Duh, kalo ketemu yang seperti ini dipastiin redaksi akan ogah berhubungan dengan penulis tersebut. Emang lo siapa?

Naskah kayak selebaran
Sebuah naskah yang di acc melalui proses baca, diskusi, dan kadang berantem antara divisi redaksi dan marketing; untuk ini kadang perlu waktu sampai sebulan. Bayangin kalau udah capek dan repot begitu pas dihubungi oleh sekretaris redaksi penulis langsung bilang, ‘Maaf, naskahnya sudah diambil penerbit lain’. Duh, akan ada dendam di hati redaksi berhadapan dengan penulis seperti ini.

Menunggu
Oke buku sudah terbit, sebagai penulis kita hanya tinggal menunggu royalti datang. Wah, yang namanya royalti itu kan berdasarkan jumlah penjualan, kalau sepenuhnya diserahkan ke penerbit yang sebenarnya punya ratusan buku lain itu berarti hanya faktor DIATAS yang bisa tahu berapa besaran royaltinya. Nah, kalo penulis nggak bantu jualin atau minimal promosi, jangan heran kalo royaltinya cuma segitu.


Pindahin, dong!

Sering kan jalan ke toko buku, yah sekadar mengagumi buku kita yang terbit. Tapi jangan asal menganggumi saja, kalo buku ditaruh di rak bawah ayo dong pindahin ke atas. Kalo buku kita nggak ada di toko buku tersebut, segera telpon penerbitnya dan minta untuk didistribusikan ke toko buku tersebut.

Jualin
Punya temen, punya sodara, punya keluarga, punya kenalan, dan punya rekanan; itu merupakan potential market yang bisa dituju. Jika sebulan aja laku 10, setahun bisa 120. Lumayan kan membantu penjualan.

Cuma itu
Oke naskah sudah terbit dan menjadi buku. Nah, kalo hanya mengandalkan satu, paling hanya satu dalam satu juta atau bahkan jutaan penulis yang beruntung hasil royaltinya gede. Selebihnya? Hmm, kalau satu buku dijamin ala kadarnya aja. So, jangan cuma itu, buat naskah-naskah yang lain.

\||Data |: |Menulisyuk.com

Jumat, 26 Februari 2010

My Knee its uuu... So Worse

12 November 2009

Hmm... Kuliah Pancasila. Kuliah paling nyenengin. Selain yang banyak dibahas adalah masalah politik, aku juga bisa bertemu dengan orang Nyenengin. Toh, secara kuliah ini adalah kuliah gabungan semua jurusan.
Waktu terus berlalu. Kuliah hampir dimulai. Aku sudah bergabung dengan teman-temanku --Anak-anak FISIP-- di jajaran sebelah kiri! (Sudah tradisi, FISIP di sebelah kiri, Farmasi kanan depan, dan manajemen dimana aja) Tapi, sampai saat itu aQ belum ngeliat Nyenengin ada. Padahal kuliah pancasila adalah kuliah paling ketat. Telat lima belas menit berarti duduk manis diluar.

Beruntung sebelum lima belas menit dia sudah datang. Dia duduk di bangku paling depan dekat jendela. Berhadapan langsung dengan kursi dosen. Anehnya, hingga kuliah berakhir dia hanya diam. Dia malah terlihat menulis di bindernya.

Seabis kuliah aQ Langsung menghampirinya. (Menyapanya, padahal aQ jhareus langsung lari ke gedung depan untuk kuliah Filsafat).

Nyenengin tampak asyik menulis. Dengan sedikit keberanioan aQ menyapanya. Dia tersenyum. Tapi sesaat kemudian dia berkata dalam perjalanan berangkat ke kampus dia jatuh dari motor.

Dari kuliah filsafat sampai malam, aQ terus kepikiran tentang hal tersebut. aQ pun mengirminya SMS dan menanyakan keadaannya. Dia membalas :

My Knee its uuuuu... so worse

Hmmm... aQ terdiam. Detik berikutnya, aQ mencari kamus bahasa Inggris yg ngga tahu ada dimana. aQ tak tahu arti dari My Knee its uuu... so worse!***

Lomba resesnsi buku Hush-Hush


Lomba Resensi buku HUSH HUSH karya BECCA FITZPATRICK
Hadiah:

Juara I

* Uang tunai senilai Rp. 700.000,-
* Voucher belanja buku Ufuk apa saja senilai nominal Rp. 1.000.000,-
* Piagam Penghargaan

Juara II

* Uang tunai senilai Rp. 500.000,-
* Voucher belanja buku Ufuk apa saja senilai nominal Rp. 750.000,-
* Piagam Penghargaan

Juara III

* Uang tunai senilai Rp. 300.000,-
* Voucher belanja buku Ufuk apa saja senilai nominal Rp. 500.000,-
* Piagam Penghargaan

Persyaratan dan ketentuan lomba sebagai berikut:

* Lomba terbuka untuk warga negara Indonesia.
* Resensi berupa karya asli, bukan terjemahan atau saduran.
* Panjang resensi sejumlah 400 – 500 kata
* Hasil resensi diposting di blog pribadi masing-masing dan atau website
* Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 resensi, namun di dalam blog/website yang berbeda
* Peserta bukan karyawan Penerbit Ufuk
* Kirimkan email berisi link resensi tersebut dan biodata plus foto kamu ke lombaufuk@gmail.com paling lambat 15 April 2010, cantumkan “Lomba Resensi HUSH HUSH” di subject email
* Pemenang akan diumumkan di situs Ufuk (www.ufukpress.com) dan via email pada tanggal 30 April 2010

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi Redaksi Ufuk

Email: redaksi@ufukpress.com

No telp: 021-7976587 ext 1 (editorial) atau 08561072712

Kamis, 25 Februari 2010

Namanya Nyenengin!

12 November 2009

aQ Tngah asyik menunggu siaran Langsung F1 saat HPku ngedadak bergetar. Ada Sms masuk dari salah seorang teman. Isinya singkat, cuma namaku dan tiga titik dibelakangnya.

Ajang...

aQ melihat nomor pengirim. Nomer 3 dari salah satu temen baruku. Kalau tidak salah itu adalah nomornya yang dibarter sama 'temannya' (Seenggaknya itu yang dia jawab pas aQ nanya sama siapa dia tukeran nomer HP).

Namanya Nyenengin (Sorry brow, aQ ngejaga identitas setiap orang yang jadi subjek cerita aQ)! Dia temanku yang aQ kenal saat hari pertama kuliah. Wanita yang baik, islami, dan bercahaya kayak matahari :) Tapi jujur, auranya saat itu memang begitu terlihat. Berbeda dengan saat ini yang semakin meredup. Dan yang pasti dia adalah teman satu kelompokku di mata kuliah pertamaku!***

Info Lomba